
Inovasi dalam akuakultur tidak selalu tentang solusi berteknologi tinggi yang menghasilkan peningkatan produktivitas yang signifikan. Inovasi juga dapat melibatkan peningkatan sistem yang sudah ada melalui praktik manajemen yang lebih baik dan teknologi yang sesuai, terkadang dengan tujuan menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang lebih positif.
Di Indonesia, sistem budidaya udang sangat bervariasi, mulai dari skala tradisional hingga semi-intensif dan intensif. Namun, inovasi dalam budidaya udang jarang menyasar petambak tradisional, yang jumlahnya sekitar 170.000 rumah tangga dan mengelola sekitar 300.000 hektar tambak – biasanya menghasilkan sekitar 200-500 kg udang per hektar per tahun. Meskipun tambak tradisional mencakup hingga enam kali lebih banyak lahan dibandingkan tambak semi-intensif dan intensif, kontribusi mereka terhadap produksi nasional keseluruhan kurang dari 20 persen.
Menyadari potensi besar yang ditawarkan oleh tambak ekstensif ini, Forum Udang Indonesia (FUI), Program Kualitas dan Standar Global (GQSP) Indonesia, serta pemangku kepentingan lainnya baru-baru ini mempromosikan peningkatan sistem budidaya udang tradisional menjadi "tradisional-plus". Tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas tambak dari 0,2 - 0,5 ton menjadi setidaknya 0,8 - 2 ton per hektar per tahun, dengan menerapkan prosedur operasi standar (SOP) dan teknologi yang mudah diadopsi. Pendekatan ini mempertimbangkan dengan cermat biaya serta kapasitas petani untuk memahami dan menerapkan metode baru.
Klik di sini untuk membaca lebih lanjut.



