
AQUAINDONESIA, Jakarta – FUI dan UNIDO kembali menyelenggarakan webinar mengenai tambak tradisional plus bertemakan ‘Evaluasi Piloting SOP Budidaya Udang Pola Tradisional Plus’, Selasa (17/10/2023). Webinar tersebut merupakan kelanjutan dari pengenalan SOP tradisional plus pada bulan April lalu.
SOP budidaya tradisional plus yang dihasilkan awal tahun ini kemudian dilakukan percobaan oleh Prof. Sukenda. Menurutnya, dari data estimasi area tambak udang di Indonesia, maka tambak intensif dengan luas 6.000 hektare dapat menghasilkan 30 ton/ha/tahun. Namun, produksi tambak tradisional yang luasnya jauh lebih besar yakni sekitar 300.000 hektare hanya dapat menghasilkan 0,4 ton/ha/tahun.
“Kalau kita tingkatkan produktivitasnya sedikit saja melalui intensifikasi tambak tradisional menjadi tambak tradisional plus, dari 0,4 menjadi 0,6 atau 0,8 ton/ha/tahun saja bisa menjadi peluang yang sangat luar biasa. Di dalam SOP tradisional ini ada kajian terkait dengan persiapan kolam, persiapan air, benur, manajemen kualitas air, sampai pada panen dan pascapanennya yang adaptif untuk para petambak menengah ke bawah,” jelasnya.
Terkait implementasinya, ada tiga piloting yang dilakukan oleh Prof. Sukenda. Pertama dengan 4 kolam, yang kedua dengan 6 kolam, dan yang ketiga dengan 5 kolam. Piloting ini sudah menunjukkan hasil yang dilakukan bersama beberapa petambak di Lampung Selatan. Praktis SOP ini dilakukan di eks tambak intensif, dengan dasar tanah dan tanpa pemakaian desinfektan.
“Banyak tambak intensif yang idle (berhenti) karena kegagalan produksi periode-periode sebelumnya, sehingga kita memanfaatkannya. Saya kira belajar yang paling baik kalau dari budidaya tradisional atau tradisional plus itu ke Ekuador. Saya coba cari referensi dan kebetulan ada dari Dr. Massaut tahun 2019 (yang menjelaskan mengenai budidaya di Ekuador),” ucapnya.
Selengkapnya kunjungi artikel berikut:
https://www.aquaindonesia.id/hasil-uji-coba-tradisional-plus-lebih-produktif-dari-ekuador/




