Lewati ke konten
GQSP Indonesia

Workshop Validasi Rencana Kerja GQSP Indonesia Fase 2

BlogTim GQSP Indonesia

Jakarta (GQSP Indonesia) – Workshop Validasi untuk Program kerja Global Quality and Standards Programme (GQSP) Indonesia fase 2 (2023-2026) dilaksanakan pada tanggal 1 Februari 2024, di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jakarta. Workshop hibrid ini menandai selesainya inception phase dan dimulainya fase implementasi baru. Acara ini dihadiri oleh 66 peserta dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan dari KKP, Swiss Economic Cooperation and Development (SECO), UNIDO, Badan Standardisasi Nasional (BSN), serta berbagai asosiasi rantai nilai dan Dinas setempat.

Sambutan Pembukaan

Workshop dibuka dengan sambutan dari Nima Bahramalian, perwakilan UNIDO pusat, menggarisbawahi area fokus utama proyek ini ya’ni peningkatan quality infrastructure, penguatan kepatuhan UMKM terhadap standar, dan promosi culture of quality di sektor perikanan. Ia juga menekankan upaya proyek ini dalam menangani perubahan iklim, terutama melalui budidaya rumput laut dan udang secara terpadu.

Violette Ruppanner representatif SECO Indonesia menggarisbawahi peran krusial Indonesia dalam perdagangan global serta pentingnya standar kualitas untuk meningkatkan daya saing. Ia membahas perjalanan proyek ini, memuji program SMART Fish, dan menekankan kontribusi GQSP Fase 2 dalam mendukung praktik perikanan yang berkelanjutan.

Bapak Budi Sulistyo selaku Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (DJPDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong adanya kolaborasi dan koordinasi antar lembaga untuk mendukung ekonomi biru serta meningkatkan implementasi kebijakan.

Highlight Perkembangan GQSP Fase 2

Bapak Sudari Pawiro, National Chief Technical Advisor (NCTA) GQSP Indonesia, menyampaikan laporan awal yang mencakup kegiatan dari Oktober 2023 hingga Januari 2024. Pada inception phase ini, 53 kegiatan koordinasi antar pemaku kepentingan telah dilaksanakan dan menghasilkan pencapaian penting, termasuk pengembangan rencana kerja, penentuan lokasi percobaan, dan pembentukan kemitraan baru. Dari hasil laporan, teridentifikasi 22 kabupaten di 11 provinsi sebagai lokasi potensial untuk proyek dan mengelompokkan kegiatan proyek ke dalam enam kategori, masing-masing dengan mitra tertentu.

Area intervensi utama meliputi:

  1. Meningkatkan daya saing UKM dan akses ke pasar.
  2. Meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan budidaya perikanan.
  3. Memperkuat sistem jaminan kualitas nasional.
  4. Pembangunan kapasitas dan pengembangan keterampilan untuk kepatuhan terhadap standar kualitas.
  5. Memperkuat infrastruktur kualitas nasional bekerja sama dengan BSN.
  6. Mendorong sinergi regional dalam ASEAN dan negara-negara GQSP.

Inception phase ini juga menghasilkan beberapa penyesuaian, termasuk penambahan empat kegiatan baru, lima kabupaten tambahan untuk lokasi proyek, dan tiga indikator kinerja utama (KPI) baru. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan keuntungan ekonomi bagi 1.500 pelaku rantai nilai, meningkatkan nilai dan volume ekspor sebesar 15%, serta membuka pasar baru untuk perusahaan yang dibantu.

Diskusi dan Masukan dari Pemangku Kepentingan

Perwakilan dari masing-masing instansi menyampaikan beberapa poin penting selama sesi diskusi. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) meminta penjelasan mengenai pemodelan rumput laut di Wakatobi serta dukungan teknis untuk UMKM, dan menekankan pentingnya sinkronisasi lokasi untuk kolaborasi proyek. Badan Standardisasi Nasional (BSN) juga menekankan perlunya harmonisasi terkait standar dan kegiatan capacity building.

Perwakilan asosiasi seperti Forum Udang Indonesia (FUI) dan Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (ASTRULI) menyuarakan isu mengenai keberlanjutan hasil program serta hak kekayaan intelektual. Selain itu disampaikan pula rekomendasi untuk mendorong pasar yang stabil untuk spesies rumput laut baru dan membahas kemungkinan pengintegrasian rumput laut ke dalam perdagangan karbon.

Sambutan Penutup

Dalam penutupan, Violette Ruppanner menegaskan pentingnya kerja sama dan saling dukung untuk mencapai tujuan proyek, sementara Nima Bahramalian menyoroti target ambisius yang telah ditetapkan untuk GQSP Fase 2, serta mengapresiasi kolaborasi yang erat dengan KKP dan mitra dari sektor swasta serta asosiasi.

Baca juga

Blog19 Des 2025

Jakarta (12/25) , Rumput laut telah ditetapkan sebagai salah satu komoditas prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, seiring dengan perannya yang strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Sejumlah Focus Group Discussions (FGD) telah diselenggarakan dengan melibatkan para pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi berbagai tantangan dalam pengembangan rumput laut di sepanjang rantai nilai, mulai dari hulu hingga hilir.

Blog2 Des 2025

Yogyakarta (12/25), Upaya untuk memperkuat rantai nilai rumput laut Ulva di Gunungkidul terus menunjukkan hasil yang menjanjikan seiring berlanjutnya kolaborasi antara GQSP Indonesia dan PT Winner Perkasa Indonesia Unggul (WPIU). Diluncurkan pada Mei 2024, inisiatif ini telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal, khususnya dalam memperkuat mata pencaharian dan mempercepat pemberdayaan masyarakat setempat.

Blog5 Sep 2025

Sebagai upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (UN SDGs) - khususnya SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 14 (Ekosistem Laut) - serta menanggapi semakin berkurangnya hutan mangrove di Kalimantan Utara akibat pembukaan tambak udang, dan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap udang yang dibudidayakan secara bertanggung jawab, UNIDO bersama Blueyou melalui program Global Quality and Standards Programme (GQSP) IndonesiaFase 2 mendorong budidaya polikultur udang berkelanjutan terintegrasi dengan mangrove yang dikenal dengan nama “Selva Shrimp” .

Berlangganan kabar terbaru

Dapatkan informasi berkala seputar mutu dan standar perikanan.